Syekh Ibrahim Harun dari masa ke masa

Pondok Pesantren/MTs Syekh Ibrahim Harun dulu bernama Madrasah Islamiyah yang didirikan oleh Buya Syekh Ibrahim Harun pada tanggal 01 Maret 1929. Pada waktu itu Santri (pelajar-pelajarnya) berasal dari berbagai daerah, seperti : Aceh, Sibolga, Jambi, Riau, Bengkulu, Kerinci, dan Sumatera Barat bahkan ada dari negara tetangga,  seperti : Malaysia, dll. Yang jumlahnya sekitar 700 – 800 orang. Tempat tinggal   Santri / Pelajarnya berada di Mesjid-mesjid dan Surau-surau di sekitar Nagari Payobasung dan Tiakar. Pada waktu itu cara belajarnya duduk bersila (halaqah).

Madrasah Islamiyah ini dipimpin oleh Syekh Ibrahim Harun dan beberapa pengurus lainnya. Guru-gurunya pada waktu itu :

  1. Abdul Majid dari Koto Nan Gadang
  2. Johari dari Limbukan
  3. Mudo Kasimin
  4. Dt. Karut
  5. Nurdin Dt. Pandak
  6. Dt. Panduko Marajo
  7. Dt. Bagindo Said

Setelah 2 tahun kemudian pada tahun 1932 – 1933 barulah dibangun ruangan belajar yang atapnya dari rumbia / daun kelapa dan lantainya tanah. Pada tahun 1942 masa Jepang dan Merdeka, ada beberapa guru yang bekerja pada Pemerintah, diantaranya :

  1. Dt. Panduko bekerja di Penerangan
  2. Mudo Kasimin bekerja jadi Wali Nagari
  3. Dt. Karut bekerja di Sosial

Pada tahun 1967 Syekh Ibrahim Harun berpulang keRahmatullah (meninggal dunia) dan pimpinan sekolah di serahkan kepada Dt. Bagindo Said. Pada waktu itu Santri-santri mulai berkurang, maka pengurus bermusyawarah agar status sekolah dinegerikan.

Mula-mula diminta kepada Departemen Agama yang waktu itu di pimpin oleh Baharuddin Buyung agar Tsanawiyah di negerikan. Menurut Departemen Agama, Tsanawiyah sudah ada di negerikan yaitu di Gadut jadi Cuma Aliyah yang bisa di negerikan pada waktu itu. Akhirnya pengurus sepakat untuk menegerikan Aliyah. Untuk itu dibuat surat permohonan yang dibawa langsung oleh Dt. Paduko Marajo ke Jakarta.

Pada tanggal 23 Maret 1970, R. Dt. Paduko Marajo menyampaikan kabar dari Jakarta bahwa sekolah sudah dapat dinegerikan yaitu dengan nama Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri ( MAAIN ). Maka diresmikanlah MAAIN pada tanggal 27 Oktober 1970 oleh Kanwil Padang yaitu Bakhtiar Ilyas.

Santri kelas IV sampai VII menjadi Santri MAAIN, Santri kelas I sampai kelas III menjadi Santri MTs. MAAIN dipimpin oleh R. Dt. Panduko Marajo sampai ia meninggal dunia, setelah itu MAAIN dipimpin oleh Nukman Basyir dan diteruskan oleh Syamsul Bahri. Tsanawiyah dipimpin oleh D. Dt. Bagindo Said, maka berjalanlah kedua sekolah tersebut dengan baik. Pada sore hari diadakan Madrasah Diniyah Awaliyah ( MDA ) yang muridnya berasal dari murid kelas IV sampai kelas VI SD, maka ramailah sekolah dari pagi sampai sore hari. Pada tahun 1982 – 1983, Departemen Agama dari Bukittiggi menganjurkan agar Kepala Sekolah Tsanawiyah adalah Pegawai Negeri dan akan diberikan bantuan untuk mendirikan bangunan bertingkat dan tawaran tersebut diterima dengan membuat surat usulan kepada Departemen Agama Kodya Payakumbuh. Lebih kurang 6 ( enam ) bulan kemudian turun Surat Keputusan Kepala Sekolah atas nama Ibu Hermis. Serah terima jabatan dihadiri oleh Camat Payakumbuh Timur. Dimasa kepemimpinan Ibu Hermis terjadi penurunan jumlah murid yang mendaftar pada Tsanawiyah ini pada akhirnya tahun 1992 – 1993 hanya satu atau dua orang saja yang mendaftar.

Pada tahun 1994 Pimpinan Yayasan Raudatul Jannah Koto Nan Gadang mengajukan tawaran untuk meminjam bangunan sekolah Tsanawiyah ini dari pada tidak terpakai sama sekali, dengan perjanjian :

  1. Akan memperbaiki lokal yang rusak
  2. Akan menyempurnakan sarana sekolah
  3. Akan mendatangkan murid-murid dari luar kota dan akan diasramakan.

Sampai tahun 1998 janji tersebut tidak ada realisasinya sehingga Proses Belajar Mengajar terhenti. Sedangkan keadaan bangunan sekolah, dua lokal ruang belajar dan satu buah kantor sudah rusak berat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, atas prakarsa Darhan Dt. Bagindo Said bersama dengan anak Almarhum Syekh Ibrahim Harun yaitu Yusri Ibrahim Dt. Patiah Nan Mudo, mengundang niniak mamak, pemuka masyarakat dan bundo kanduang Kenagarian Tiakar dan Payobasung untuk mengadakan rapat pada tanggal 17 September 1999, bertempat diruangan MTsS Tiakar dengan keputusan sebagai berikut :

  • Setuju melanjutkan kembali Proses Belajar Mengajar di MTsS Tiakar Payobasung.
  • MTsS ditingkatkan dengan mendirikan Pondok Pesantren Syekh Ibrahim Harun.
  • Kepada anggota rapat agar dapat mengusahakan mencari murid / siswa / santri terutama anak kemenakan yang berada dalam Kenagarian Tiakar dan Payobasung termasuk negeri tetangga.
  • Untuk penyelenggaraan sekolah dibentuk kepengurusan / yayasan dengan Ketua Yusri Ibrahim Dt. Patiah Nan Mudo.
  • Kepala sekolah Dasrul Fauzi, s. Ag.

MTs Syekh Ibrahim Harun diresmikan  Pada tanggal 17 Maret 2000 oleh Bapak Walikota Payakumbuh yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kota Payakumbuh Drs. Nafriadi Hamdi. Pada tanggal 13 Agustus 2001 MTsS / Pondok Pesantren Syekh ibrahim Harun Tiakar melalui Piagam Pendirian Madrasah Tsanawiyah Swasta Nomor: D/MC/MTsS/03/2001/ ( NSM ) 121213760003 yang dikeluarkan oleh Kantor Departemen Agama Kota Payakumbuh.

%d blogger menyukai ini: